Laman

Tampilkan postingan dengan label Opiniku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opiniku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Mei 2010

Cukupkah Belajar Mengajar Dengan Buku Paket ?















"Baiklah anak-anak, sampai halaman berapa pelajaran kita minggu kemarin ?", seorang guru bertanya kepada para muridnya. "Halaman 40 buk...tentang hewan dan tumbuhan langka". "Sebelum ibu memulai pelajaran hari ini, ibu akan bertanya pada beberapa orang untuk mengingat kembali pelajaran yang telah kita pelajari ".

Dialog diatas sering terjadi di dalam suatu kelas saat proses pembelajaran berlangsung. Siswa membaca isi buku yang menjadi pegangan baginya untuk dipelajari dirumah sementara guru menginstruksikan pada siswa untuk dibaca secara bergiliran. Namun ada juga guru yang sesekali mengarahkan siswa untuk melihat isi buku yang menjadi pegangan siswa untuk dibaca saat dirumah. Guru tersebut melengkapi dirinya dengan buku referensi lainnya saat mengajar sehingga tidak selalu mengacu pada isi buku pegangan pada siswa.

Namun ironisnya, saat guru memberi tugas pada murid atau siswa sehubungan dengan materi pelajaran yang telah dipelajari namun jawabannya tidak ditemukan pada buku pegangan yang ada pada siswa, siswa selalu mengatakan bahwa pelajaran itu "tidak pernah dipelajari". Siswa selalu mengeluh dengan kondisi yang seperti ini. Muncullah protes atau sikap acuh tak acuh saat ditanyakan mengapa tugas belum selesai atau mengapa tugas tidak dikerjakan. Alasannya selalu sama, "jawabannya tidak ada pada buku paket".

Mungkin kondisi seperti ini juga pernah terjadi pada kebanyakan guru. Hal ini dapat terjadi dikarenakan beberapa sebab:
1) Guru lupa menyampaikan pada siswa tujuan utama diberikannya buku paket
sekolah sebagai pegangan siswa
2) Guru selalu mengambil sumber informasi pada buku yang sama dengan buku
yang dibaca siswa
3) Guru selalu memberikan tugas-tugas berdasarkan soal-soal yang telah tercetak
pada buku paket pegangan siswa
4) Saat guru berhalangan hadir ke sekolah, tidak memberikan / menyampaikan
materi yang akan diajarkannya pada hari itu. Sehingga guru yang menggantikan di
kelas hanya bisa berpedoman pada buku yang ada pada siswa.

Cara-cara seperti di atas mungkin dapat diubah sehingga tidak menimbulkan dilema pada siswa saat dia akan mengikuti suatu event-event dalam hal prestasi belajar. Siswa harus diberi pemahaman bahwasanya sumber-sumber belajar yang lain boleh digunakannya selagi masih memiliki keterkaitan dengan materi yang dipelajari. Sehingga siswa lebih dapat mengexplor kemampuan yang dimilikinya.

Sementara guru, jangan hanya mengandalkan buku paket yang ada pada siswa saat guru tidak dapat hadir di kelas. Guru harus memberikan suatu informasi baru yang tidak ada pada buku paket pegangan siswa dengan tidak mengabaikan keterkaitan antara materi yang diberikan dengan pokok bahasan yang akan dipelajari. Sehingga siswa merasa adanya keterkaitan materi yang diajarkan oleh guru pengganti walaupun guru yang sebenarnya tidak hadir di kelas. Dan antusias siswa untuk melanjutkan pelajaran juga tinggi karena jika guru yang tidak hadir hanya mengandalkan buku paket maka siswa akan merasa "jenuh" sehingga merasa kurang tertarik jika isi buku yang sama harus mereka baca sementara guru yang mengajarkan di depan kelas berbeda.

Buku paket adalah sarana pembantu yang diberikan sekolah kepada para siswa untuk mereka jadikan sebagai salah satu sumber informasi. Namun, tidak mutlak harus dibaca atau dijadikan sumber saat siswa belajar di sekolah. Sehingga para siswa akan lebih kreatif dalam menyampaikan pendapat, informasi yang berkaitan dengan pertanyaan dari guru maupun soal-soal tugas yang diberikan.

Senin, 03 Mei 2010

Siswa Berprestasi, Prestasi Guru atau Orangtua ?

Memiliki buah hati yang berprestasi dalam belajar tentu suatu kebanggan bagi orangtua. Namun, bila buah hati gagal dalam belajar orangtua mencari kambing hitamnya. Suatu kondisi yang kontradiktif akan terjadi, orangtua mengatakan kegagalan disebabkan guru yang mengajar kurang berkompeten, sistem pendidikan yang salah. Sementara guru mengatakan kurang kontrolnya orangtua terhadap anak dirumah,sehingga menyebabkan prestasi siswa menurun bahkan jatuh.

Sebenarnya dua "kekuatan" ini harus dipadukan secara "harmonis" sehingga tidak terjadi silang pendapat antara orangtua dan guru dalam menilai suatu kegagalan atau prestasi siswa dalam belajar. Di sekolah, tugas guru adalah mendidik, membimbing , dan mengajar para siswa tentang ilmu pengetahuan yang belum dan mungkin tidak didapatkannya dirumah agar siswa menjadi insan yang memiliki wawasan keilmuan yang didasarkan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Sementara di rumah, orangtua mengawasi dan mereflek Sehinggsi hasil belajar siswa di sekolah.

Orangtua mana yang tidak menginginkan buah hatinya memiliki prestasi yang cemerlang begitupun guru disekolah. Dengan segala daya upaya guru berusaha mendidik, membimbing dan mengajarkan suatu ilmu pengetahuan sebagai bekal para siswa di masa depan kelak. Dan tentunya orangtua juga berusaha agar buah hatinya dapat menguasai semua mata pelajaran yang ada disekolah secara maksimal. Siswa gagal, kegagalan siapa ? Siswa berprestasi, prestasi siapa ? Orangtua atau guru ?

Semoga kita menemukan jawabannya secara bijak :)

Jumat, 30 April 2010

BILA SISWA SUKA MENYONTEK....

Di dalam proses belajar mengajar ada saat guru harus di uji. Bukan diuji dengan kumpulan soal-soal tetapi di uji bagaimana kecermatan dan kebenaran guru dalam menilai hasil belajar siswa. Bagi guru yang "jeli" dan "streng" dalam mengawasi siswa saat ulangan/latihan tentu bukan suatu masalah. Namun yang menjadi masalah, siswa merasa kurang nyaman karena merasa terlalu "diawasi" sehingga terkesan "stress" saat menyelesaikan soal demi soal. Dan yang menjadi kendala bagi guru jika siswa selalu berusaha "nyontek" saat ulangan/latihan agar semua soal terjawab tanpa harus bersusah payak berpikir. Jika ketahuan guru, mungkin lagi naas. Namun, jika tidak ketahuan guru bisa menjadi lebih naas lagi.
Jika menghadapi hal yang seperti ini tentu guru tidak mengetahui pasti kapasitas siswa sebenarnya. Memang penilaian tidak hanya dilakukan saat ujian praktek / tulisan di kelas tetapi harus dilakukan setiap melakukan pembelajaran. Sehingga dapat diketahui lebih dalam lagi kemampuan siswa sebenarnya. Pada saat penilaian terakhir guru juga tidak terlalu sulit mengambil keputusan karena penilaian telah dilakukan secara kontinu.
Untuk mengatasi siswa yang suka menyontek teman sekelasnya duntuk mengatasinya dapat dilakukan beberapa trik. Misalnya dengan indikator yang sama buat beberapa model soal dan jawaban. Sehingga siswa yang suka menyontek akan "terjebak" sendiri dengan ulahnya.
Usahakan juga jumlah soal dengan waktu yang disediakan tidak banyak memberi ruang pada siswa untuk bertanya. Sehingga siswa benar-benar mengerjakan soal sesuai kemampuannya.

Rabu, 14 April 2010

KIAMAT SUDAH DEKAT ?

Fenomena film di negeri barat yang bercerita tentang akan berakhirnya dunia makin gencar beredar. Belum lagi fenomena-fenomena alam yang banyak ditafsirkan masyarakaat sebagai tanda hari kiamat sudah dekat. Khawatirkah kita dengan tafsiran ini ? Tentu bermacam-macam pendapat yang dilontarkan jika hal ini dipertanyakan pada masyarakat. Namun siapa yang dapat menjawab dengan pasti kapan hari kiamat itu akan tiba. Wallahu ’alam bishawab.

Di dalam Al Quran telah diwahyukan oleh Allah bahwasanya alam semesta ini telah diciptakan dan akan sampai pada titik akhirnya. Dunia yang telah tercipta milyaran tahun yang lalu dan telah berfungsi secara sempurna dan berjalan secara teratur adalah karya Tuhan, Yang telah menciptakan segalanya. Semua ini akan sampai juga pada titik akhirnya sesuai dengan perintah-Nya dan pada saat yang telah ditetapkan-Nya.

Waktu yang ditetapkan dimana alam semesta dan segala makhluk yang ada di dalamnya, mulai dari mikroorganisme hingga umat manusia, termasuk bintang-bintang dan galaksi-galaksi, akan sampai pada titik akhirnya, disebut as-Sa’ah di dalam Al Qur’an. As-Sa’ah ini bukan menunjukkan sembarang saat; namun adalah sebuah kata yang dipakai secara khusus di dalam Al Qur’an guna menunjukkan waktu tersebut tatkala dunia ini akan berakhir. Berhubungan dengan pengumuman akan berakhirnya dunia, Al Qur’an menggambarkan secara terperinci tentang proses kejadian tersebut : ”Apabila langit terbelah,” ”Tatkala lautan dijadikan meluap,” ”Gunung-gunung berterbangan,” ”Apabila matahari digulung.....”, kengerian dan kepanikan yang dialami orang-orang ketika bencana mengerikan itu terjadi diceritakan secara rinci di dalam Al Qur’an; ayat-ayat tersebut menandaskan bahwa tidak ada jalan untuk meloloskan diri dan tidak ada tempat untuk bersembunyi.

Di dalam kehidupan nyata saat ini ”kiamat” itu sebenarnya telah terjadi. Walaupun kondisinya tidak sama dengan ”hari kiamat” yang dimaksud di dalam Al Qur’an. Diibaratkan bahwa “kiamat” itu telah terjadi pada seseorang yang baru saja di PHK dari perusahaan tempat dia bekerja. Dengan hilangnya pekerjaan seseorang itu secara tidak langsung dia akan merasakan “dunianya berakhir”. Kengerian dan kepanikan pasti akan dialaminya. Bingung harus pergi kemana sehingga dapat menyembunyikan rasa malu yang tidak terhingga karena baru saja kehilangan pekerjaan. Kiamat yang seperti ini hanyalah sementara, selagi masih mau berusaha tentu Allah akan memberi jalan penyelesaiannya.

Dari sekian banyak ayat Al Qur’an yang telah dinyatakan dengan jelas, bahwa pembahasan tentang akhir dunia yang tak terelakkan ini telah menarik perhatian manusia dalam setiap periode sejarah. Dalam beberapa ayat tertentu, diceritakan bahwa orang-orang telah bertanya kepada Nabi Muhammad saw. tentang kapan terjadinya akhir dunia ini :

“Mereka menanyakan kepadamu tentang as-Sa’ah:”Bilakah terjadinya?”....

(Q.s al-A’raf:187).

(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu(Muhammad) tentang hari berbangkit (as-Sa’ah), kapankah terjadinya?

(Q.s an –Nazi’at:42).

Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw. untuk menjawab pertanyaan ini sebagai berikut :”.... Pengetahuan tentang hal itu berada disisi Tuhanku.....” (Q.s al-A’raf:187), yang maksudnya bahwa hanya Dia Yang Tahu kapan terjadinya as-Sa’ah itu. Dari ayat ini dapat kita memahami bahwa pengetahuan kapan tibanya as-Sa’ah itu tersembunyi bagi manusia.

Tanda-Tanda Hari Kiamat

Ayat-ayat Al Qur’an dan hadis-hadis Nabi saw. menunjukkan bahwa Akhir Zaman terbagi dalam dua tahap. Periode pertama adalah dimana cobaan-cobaan material dan spiritual akan menimpa dunia ini; periode kedua yang datang disebut sebagai Zaman Keemasan, suatu masa dimana Al Qur’an akan mendominasi, menghasilkan kesadaran yang mendalam mengenai kebaikan pada diri semua manusia. Manakala Zaman Keemasan ini berakhir, dan setelah dunia ini mulai memasuki masa kemunduran sosial, maka kedatangan kiamat sudah dekat.

Telah tampak kerusakan di darat dan laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

(Q.s ar-Rum: 41).

Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad saw. Menggambarkan Hari Kiamat sebagai berikut :

Rasulullah saw. bersabda:”Akan banyak terjadi al-harj.” Para sahabat bertanya, ”Apakah al-harj itu?” Beliau menjawab,”(Yaitu) pembunuhan, pertumpahan darah.”(HR. Bukhari)

Makna harj yang disebutkan dalam hadis Nabi Muhammad saw. diatas adalah ”kekacaubalaun total” dan ”ketidakteraturan”, yang tidak terbatas pada satu wilayah tertentu, namun akan tersebar luas di seluruh penjuru dunia.

As-Sa’ah(Hari Kiamat) akan tiba manakala kekerasan, pertumpahan darah, dan anarki telah merata dimana-mana.

(Al Muttaqi al-Hindi, Muntakhab Kanzul ’Ummaal).

As-Sa’ah (Hari Kiamat) tidak akan tiba hingga....sering sekali terjadi gempa-gempa. (HR. Bukhari).

Sungguh, ketika tiba Saat Terakhir, akan terdapat....

kesaksian palsu dan penggelapan bukti-bukti.

(HR. Ahmad dan Hakim).

Akan ada tuduhan palsu dan fitnah.

(HR. Tirmizi).

Saat Terakhir tak akan tiba sebelum muncul 30 dajjal (para pendusta), yang masing-masing mengaku sebagai nabi Allah.

(HR. Abu Dawud)

Dari ayat-ayat Al Qur’an dan hadis-hadis diatas kita dapat mengetahui beberapa tanda-tanda Hari Kiamat. Namun kapan hari itu akan tiba? hanya Allah Yang Maha Mengetahui. Sebagai makhluk kita harus mempercayai Hari Akhir itu akan tiba dan berusaha menjadi hamba yang terus meningkatkan keimanan dan lebih bertawakkal kepada Sang Pencipta.

”Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui

selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami;

sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui

lagi Mahabijaksana.” (Surat Al-Baqarah : 32).

Wallahu a’lam bisshawab...

Selasa, 13 April 2010

JIKA TEKNOLOGI “DISELINGKUHI”


Di dalam kehidupan sehari-hari kita tidak dapat lepas dari yang namanya teknologi. Mulai dari dapur, kamar tidur, kantor bahkan tempat-tempat fasilitas umum. Teknologi tercipta dan diciptakan untuk membantu manusia dalam beraktifitas agar menjadi lebih mudah. Namun, walaupun tujuan akhir diciptakannya teknologi adalah untuk itu masih ada individu yang mampu menggunakan teknologi itu secara “maksimal” dan sesuai fungsinya. Contohnya, pisau diciptakan sebagai alat potong. Dengan pisau, para ibu dapat mengupas bawang, memotong sayur dan membersihkan ikan. Namun jika pisau dijadikan sebagai alat untuk “menusuk” perut orang lain yang akhirnya membuat orang tersebut tewas tentu dapat dikatakan telah terjadi “perselingkuhan” terhadap fungsi pisau tersebut. Yang akhirnya, teknologi yang diciptakan oleh manusia sendiri telah menimbulkan kerugian pada manusia yang lain.

Akhir-akhir ini kita juga telah mendengar dan melihat berita di media cetak maupun media televisi tentang penyalahgunaan salah satu teknologi informasi dan komunikasi. Dan ini berkaitan dengan teknologi internet. Dimana telah terjadi “pelacuran” terselubung oleh beberapa oknum yang melibatkan para pelajar di daerah jawa. Itu yang telah “tercium” oleh pihak kepolisian. Nah, bagaimana dengan daerah anda. Apakah hal demikian tidak mungkin terjadi ? . Mungkin sebagian orangtua ada bertanya dalam hati maupun di luara hati alias secara lisan, mengapa hal demikian sampai terjadi ? Jawabannya “Teknologi telah diselingkuhi”. Jika saja teknologi yang ada saat ini digunakan sesuai dengan fungsinya dan para pengguna “bijak” untuk memanfaatkannya maka tidak akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Sebagai seorang yang berkecimpung di dunia pendidikan, penulis juga prihatin dengan kejadian di atas. Dan boleh dapat dikatakan sedikit khawatir, apakah sudah tepat pelajaran tentang internet diajarkan pada siswa di bawah umur 17 tahun ? Karena pada suatu obrolan dengan seorang teman, saat penulis bercerita pada teman tersebut bahwa di sekolah tempat penulis bekerja telah diajarkan pada siswa bagaimana cara menggunakan internet. Teman tersebut terkejut, katanya “Apakah itu tidak terlalu cepat untuk diajarkan dan apakah tidak berbahaya diajarkan pada siswa dibawah umur 17 tahun ?”. Penulis tersenyum sambil memberikan sedikit jawaban yang menenangkan teman tersebut.

Sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan dalam penggunaan internet asalkan semua pada porsinya dan tidak ada “perselingkuhan” dalam penggunaannya. Sebagai seorang pendidik, penulis juga selalu mengingatkan para siswa di tempat penulis bekerja agar menggunakan ilmu yang diajarkan sesuai dengan apa yang diajarkan. Karena teknologi informasi khususnya internet ibarat dua mata pedang yang tajam. Jika salah mengarahkannya maka akan terkenalah apa saja yang ada di sekitarnya.

Gunakan teknologi dengan bijak, gunakan untuk hal-hal yang baik dan bermanfaat bagi orang banyak. Para orangtua yang mengetahui buah hatinya suka dengan teknologi internet hendaknya tetap memantau penggunaannya. Apakah penggunaan teknologi tersebut mempengaruhi pergaulannya menjadi lebih baik, prestasi sekolah meningkat atau sebaliknya ? Marilah kita bersama-sama menggunakan teknologi yang ada secara bijak dan tepat agar manfaatnya dapat lebih kita rasakan serta membawa kebaikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Insya Allah. (March ’10)